Jumat, 13 November 2020

Viral Simpati Buat Yang Dizalimi

"Takutlah kalian kepada doa orang yang didzalimi, karena antara dia dengan Allah tiada penghalang." H.R. Imam Bukhari.

Orang-orang yang beriman meyakini kebenaran sabda-sabda nabi Muhammad saw dan para nabi sebelumnya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman tidak akan mempercayainya. 

Terlepas dari percaya atau tidak, fakta-fakta akan secara obyektif menunjukkan pembuktian. Dalil mana lagi yang lebih kuat dibanding bukti dan kenyataan? 

Para sejarawan mencatatkan peristiwa-peristiwa nyata di masa lalu tentang orang-orang yang dizalimi, sekaligus menceritakan orang-orang yang menzalimi. 

Semua nabi/rasul penyuara nurani disakiti dan dizalimi. Banyak pihak yang merasa terancam oleh para pembawa misi nurani ini. Mereka menganggap kehadiran para nabi dan rasul bakal merusak posisi bisnis, keuntungan ekonomi, pengaruh, dan posisi politik yang sudah mereka dapatkan. 

Pihak-pihak yang memusuhi para nabi dan rasul terdiri dari berbagai kalangan, ada keluarga, saudara, teman, tetangga, tokoh tradisi, tokoh intelektual, tokoh politik, hingga para penguasa. Karena merasa kepentingan mereka terancam, maka mereka berusaha menghalangi gerak langkah para nabi. Fitnah, berita hoaks, pengusiran, penyiksaan, pemenjaraan, teror, dan percobaan-percobaan pembunuhan pun mereka ikhtiarkan.

Pada faktanya, sekarang, sejarah mencatatkan dan kenyataan membuktikan bahwa yang menuai pujian, empati, simpati, dan kecintaan adalah para nabi dan rasul yang selalu disakiti dan dizalimi itu. Sebaliknya kepada para pihak yang menzalimi hanyalah cercaan dan kehinaan. Fakta-fakta telah menegaskan bahwa nurani dan para penyuara nurani itu abadi.

Di hari-hari ini pun kita menyimak berbagai kejadian khusus tentang orang-orang yang menjadi korban kezaliman. Fakta-fakta pun membuktikan bagaimana orang-orang yang dizalimi memanen empati, simpati, menjadi idola publik, dan dicintai khalayak masyarakat. Itu semua menjadi bukti bahwa Allah berpihak kepada para pejuang nurani dan mengabulkan doa orang-orang yang dizalimi.

Uniknya, pihak-pihak yang menzalimi seakan tak bisa memahami dan menyadari kenyataan. Itu mungkin dikarenakan hati mereka sudah tertutup oleh ambisi kepentingan dan kekuasaan. Fakta-fakta ini pun sebagai bukti bahwa kejahiliyahan bukanlah kebodohan intelektual, tetapi kebodohan hati akibat keserakahan dan ambisi duniawi.

Hati Hanya Mencari Hati

Nurani Tidak Bisa Dibohongi


Di mana-mana semakin semarak pertunjukan massa yang mengekspresikan cinta dan kepercayaan kepada tokoh-tokoh yang dinilai tulus dan lurus. Mereka memberikan dukungan moral, material, waktu, fikiran, tenaga, dan apapun yang bisa mereka korbankan demi tokoh tersebut. 

Aksi-aksi simpatik yang mereka tunjukkan itupun sekaligus sebagai pertunjukkan ekspresi kekecewaan dan ketidakpercayaan mereka kepada tokoh-tokoh lain (pejabat, pemimpin, dsb) yang menurut mereka tidak amanah dan dianggap tidak berpihak kepada rasa keadilan.

Boleh jadi,dukungan moral atas aksi-aksi mereka ini akan mengalr semakin deras diberikan oleh mayoritas masyarakat pada umumnya. Terlepas apakah aksi-aksi itu berorientasi politis atau moral, bagi sebagian masyarakat bukanlah patokan. Mungkin saja sebagian besar masyarakat merasa aksi-aksi massa itu telah mewakili uneg-uneg sekaligus harapan, ya ... harapan 

Bisa jadi ketika rakyat menganggap rasa keadilan sudah dipermainkan, kepercayaan tak tahu lagi kemana harus dialamatkan, maka harapanlah yang menjadi satu-satunya alasan tersisa bagi masyarakat. Dengan harapan itu "pohon semangat" yang tadinya sudah layu dan nyaris lumpuh  kini serasa tersirami dan tumbuh subur kembali.

Masyarakat merasakan keberadaan para pemimpinnya dengan menggunakan nurani. Melalui nurani itu pula para pemimpin dinilai oleh rakyat. Apabila pemimpin sudah dianggap tidak bisa lagi mewakili nurani, maka rakyat pun akan segera mencari tokoh-tokoh yang dirasakan bisa mewakili nurani itu.

Nurani Memang Tidak Bisa Dibohongi, dan Hati Hanya Akan Mencari Hati.

Menguji Kebijakan Diri

Perbedaan Itu Agar Kita Saling Membijaki 


Banyak madrasah Ilahiyah yang harus diikuti dan ujian-ujian yang harus diseberangi. Satu di antaranya adalah kapan dan di manapun, kita akan berhadapan dengan perbedaan-perbedaan. Banyak hikmah yang bisa dipetik. Allah menguji kita melalui perbedaan-perbedaan itu sebagaimana Allah menguji kita melalui kesamaan-kesamaan. 

Kita digelarkan sebagai laki-laki dan perempuan, terdiri dari berbagai etnis, juga bangsa-bangsa. Dari perbedaan etnis dan bangsa saja berkonsekwensi pada lahirnya perbedaan-perbedaan baru yang sangat banyak dan sulit dihitung. Akan tetapi melalui multi-perbedaan manusia diajari Allah untuk lebih mampu "meluaskan" dirinya.

Fluralitas merupakan sarana tarbiyyah bagi manusia dalam menyelami makna "ta’aaruf”. Melalui kemajemukan Allah membina kita untuk bisa saling memberi kearifan. Seseorang yang disebut 'arif itu bukan orang sembarangan lho..

Orang-orang yang telah mencapai ma’rifat” disebut ‘arif billah. Maqam ma’rifat ini berada di atas syari’atthariqat, dan haqiqatSedangkan di kalangan ahli hikmah, para pencapai ma'rifat ini disebut ‘irfaan

Dalam pergaulan sosial dikenal istilah ma’ruuf, artinya kebaikan, seperti sering kita dengar istilah amar ma’ruf nahyi munkar (menyeru pada kebaikan dan mencegah kemunkaran), atau mu'aasyarah bil ma'ruuf (saling membijaki antara suami isteri). Islam pun mempopulerkan istilah ‘urf untuk tradisi (culture) yang bersumber dari kearifan lokal (local wisdom).  Istilah-istilah tersebut (ta’aaruf, ma’rifat, ‘urf, ma’ruuf, ‘aarif, dan ‘irfaan) berasal dari kata dasar yang sama dalam bahasa Arab, arafa.

Begitu dalamnya makna pendidikan dan pengujian Allah kepada kita melalui tugas ta’aaruf ini. Ta’aruf bukan sekedar saling berkenalan sebagaimana perkenalan siswa-siswi baru di sekolah. Ta’aaruf bermuatan pendidikan akhlak manusia berdasarkan kesadaran universalnya..Hanya melalui kesadaran universal seseorang akan mampu membijaki kejadian-kejadian, kemajemukan, dan perbedaan-perbedaan tanpa dikungkung fikiran-fikiran sektarian. 

Firman Allah “…dan Kami jadikan kalian beretnik-etnik serta berbangsa-bangsa….”, dapat kita sebut sebagai cikal bakal kelahiran (primordial) segala perbedaan. 

Demikian agung skenario Illahi.

Konflik Terus, Buat Apa?

 Lebih Baik Berfokus Di Peran Utama

Kita menyaksikan berbagai konflik yang terjadi. Ada konflik yang bersifat terbuka, juga ada “perang-perang dingin” antar-negara, etnis, saudara seagama, antar-tokoh seagama, antar-umat beragama, antar-tokoh masyarakat, dan sebagainya. Di antara pemicu klasik terjadinya konflik-konflik itu lebih disebabkan oleh kecenderungan pihak-pihak dalam mendewakan versinya, menolak versi orang lain, dan belum dewasa merespon perbedaan.

Mencita-citakan terhapusnya segala perbedaan adalah mustahi. Memimpikan persamaan dalam segala hal adalah utopis. Menyamakan semua hal yang berbeda itu sama saja dengan melawan rumus alam. 

Kita sering menyoal perbedaan-perbedaan yang wajar adanya dan memilih untuk menyuburkan berbagai pertentangan, mengklaim benar versi sendiri, dan memvonis salah versi orang lain. Apakah karena beda partai etnis, background,, madzhab, aliran, prinsip, dan agama kita harus menjadi tidak bersaudara?  

Film kita adalah film kita, dan film orang lain adalah film orang lain. Masing-masing orang bahkan punya filmnya sendiri-sendiri. Setiap orang punya lakon utama dalam film dirinya. Setiap kita adalah para aktor yang masing-masing punya “peranan khas”. sesuai “skenario” yang diberikan Maha Sutradara. Menghargai film dan lakon masing-masing, bukan berarti harus menyamakan peran atau memaksa orang untuk berganti peran..

Jika setiap pihak sibuk dengan peran utamanya masing-masing, mana ada waktu buat mempermasalahkan peran orang lain. Jika setiap pihak berkonsentrasi pada kualitas adegan dirinya, mana sempat membuang-buang energi untuk menyoal adegan orang lain. 

Terlepas dari batas-batas wilayah peranan utama masing-masing kita, namun kebersamaan dalam amar ma'ruf nahyi munkar perlu semakin dikuatkan.

Manusia Hanya Satu


Satu Pusat Manusia


 Sumber Gambar : Kompasiana.Com

Al-Quran menyampaikan bahwa pada prinsipnya semua orang di dunia ini "satu"., Mereka berasal dari satu sumber asal. Di pusat kejadian asalnya itu semua orang (dimensi ruh) mengakui satu ketuhanan (rububiyah) keika ditanya “benarkah Aku Rabb kalian?”, dan semua orang (anak Adam) menjawab :”betul, kami menyaksikan”. Berikutnya, pada dimensi "jiwa", setiap kita (semua orang) berawal dari diri yang satu (nafs waahidah) 

Setelah gelar ke dunia, bisikan “kesaksian” kita tersebut secara alamiah terus menyertai. Bisikan kesaksian itu mendampingi kesadaran terdalam manusia tentang keesaan Tuhan. Inilah kesadaran tauhid sebagai fitrah manusia yang bersifat primordial dan universal serta tidak bisa dilenyapkan. Se-vulgar apapun seseorang mengaku atheis, namun jiwa murninya akan tetap berbisik “oh my God”.

Di tengah berbagai perbedaan dan background, masing-masing orang terikat pada Tuhan yang sama. Seperti ponsel, meskipun hardware-nya tersebar di sana-sini dengan bentuk casing yang beraneka ragam, namun software-nya terhubung pada satu sentral satelit. Begitu pula manusia, meskipun berbeda etnis, warna kulit, budaya, dan lain-lainnya, tapi software-nya (hatinyai) tersentralisir pada satu pusat Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ruh manusia tertambat pada satu pusat jaringan spiritual mahaluas. Tentang hal ini muncul banyak istilah : pribadi tinggi, pusat diri, jaringan bawah sadar, pusat bawah sadar, dan sebagainya. 

Karena itu sebeda apapun dan dimana pun, saya, Anda, dan mereka adalah “kita” (kami). Kita semua dipertautkan oleh satu penciptaan, satu rububiyah, satu sumber jiwa, dan satu rasa universal. 

Kesatuan yang tidak kita rancang sebelumnya ini sepatutnya dijadikan energi paling berharga unuk lebih menguatkan persaudaraan antar-sesama manusia di bawah naungan kasih sayang ramhatan lil ‘aalamiin.

 

Kamis, 12 November 2020

Otak Anda Bukanlah Anda

Otak Hanyalah Alat Anda

 

Seorang Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Unpad di era 1980-an, Prof. Dr. Aloei Saboe, mengomentari :

 “‘Aku’ bukanlah otak, tetapi otak adalah kepunyaan dan alat dari ‘Aku’. ‘Aku’-lah yang menggunakan otak sebagai alat sesuai kehendaknya. ‘Aku’ adalah suatu zat yang tidak dapat dilihat, diraba, dan dipegang.

Socrates mengatakan : “Hasil karya para penyair besar bukanlah berkat kecerdasan dan kepintaran otak mereka, tetapi dihasilkan oleh suatu potensi alamiah yang saya sebut inspirasi, sebagaimana para nabi yang telah menyampaikan ajaran-ajarannya, tetapi mereka tidak mengetahui dan mengerti.” 

Berkata Goethe : “Puisi yang membikin saya, dan bukan saya yang membikin puisi.”

Para pakar musik besar seperti Mozart, Strauss, Tsjaikovski, dan Wagner berkata : “Dari mana datangnya zat yang menghasilkan ispirasi, kita tidak tahu. Rupanya inspirasi itu datangnya dari suatu sumber yang kita tidak tahu di mana dan dari mana.” 

Albert Enstein, Lewis Carrol, Alva Edison, dan Lord Kelvin berkomentar senada : “Aku berpikir tanpa kata.” 

Tentang kemampuan otak, Thomas Alva Edison mengatakan : “Otak rata-rata manusia tak bisa melihat seperseribu pun dari apa yang dilihatnya.”

Ternyata otak hanyalah alat yang digunakan oleh kita. Tapi otak bukanlah kita. Lantas bagaimana kita akan mampu memahami segalanya hanya dengan mengandalkan kemampuan otak?

Kelahiran Sebelum Kelahiran?

 Renungan, Bukan Kesimpulan


Fsikolog terkenal, Carl Jung mengatakan,  “Seringkali, hidup yang saya jalani tampak seperti sebuah kisah yang tak memiliki awal atau akhir. Saya merasakan bahwa saya adalah sebuah fragmen historis, sebuah petikan yang telah kehilangan teks awal dan akhir. ..."

"... Saya dapat membayangkan dengan baik bahwa saya mungkin pernah hidup di abad-abad sebelumnya dan menghadapi persoalan-persoalan yang belum dapat saya jawab, sehingga saya harus dilahirkan kembali karena belum pernah melaksanakan kewajiban yang diberikan kepada saya.”


Apa yang diungkapkan Carl Jung di atas mungkin juga pernah membisik di benak Anda. Apakah hal ini menguatkan prinsip reinkarnasi? Wallahu A'lam. 

Terlepas dari kepercayaan yang dianutnya, Jung menyampaikan pada kita bahwa ia sering merasa (seakan) dirinya sudah pernah hadir di suatu masa jauh sebelum ia dilahirkan. Jung merasa dirinya jauh lebih tua jika dibandingkan umur biologisnya. 

Kini Jung sudah meninggal, boleh jadi sekarang beliau sudah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya.

5 Kalimat Dalam Taurat



Kutipan Hikmah Pengajian Buya Syakur Yasin


Wahai Musa, Taurat ini ditutup dengan 5 kalimat. Jika engkau mengamalkannya maka akan bermanfaat bagimu ilmu-(mu) seluruhnya. Tapi jika engkau tak mengamalkannya maka apa pun (yang ada pada dirimu) tak akan bermanfaat.

Pertama, yakinlah dengan rizki yang telah terjamin (untukmu) selama gudang (stock) rizki-KU masih ada, dan gudang rizki-KU itu pasti ada (tak pernah berkurang) selamanya;

Kedua, jangan pernah takut dengan penguasa selama ada kekuasaan-KU, dan kekuasaan-KU pasti ada untuk selamanya;

Ketiga, jangan mengorek-ngorek aib orang lain selama aib itu ada pada dirimu, karena manusia tak akan pernah terbebas dari aib (diri) selamanya;

Keempat, jangan pernah berhenti memerangi syetan selama ruh berada di dalam ragamu, karena syetan tak akan pernah berhenti memusuhimu selamanya;

Kelima, jangan pernah merasa aman (lengah) dari tipu daya-KU hingga engkau melihat dirimu sudah berada di surga, karena di surga pun Adam tertimpa apa yang menimpanya, maka jangan pernah lengah terhadap tipuan-KU selamanya.

Rabu, 11 November 2020

"Kota Amburadul", Apa atau Siapa?

Sebuah kota yang menjadi pusat negeri dan dihuni oleh para pemimpin juga mantan-mantan pemimpin tertinggi negeri disebut amburadul. 

Jadi muncul pertanyaan, yang dimaksud dengan amburadul itu "apa" atau "siapa"?

Jika aku termasuk pemimpin dan atau mantan pemimpin yang pernah dipercaya mengelola negeri, dan aku mengatakan bahwa salahsatu kota di negeri ini amburadul, apakah itu tidak berarti aku menunjuk hidungku sendiri?

Negeri perlu dibangun dengan hati, bukan dibangun demi kepentingan kelompok atau pribadi.

Membantu atau Merusak?

Tepat Sasaran Menjadi Perioritas Bansos

Kepada saudara-saudara kita yang kondisinya (fisik dan sebab lain) memang benar-benar sudah tidak bisa lagi produktif, bansos-bansos konsumtif itu amat bermanfaat

Tetapi kepada saudara-saudara kita yang secara fisik dan lainnya (sepatutnya bisa) produktif, sebaiknya bantuan itu lebih bersifat stimulan permodalan usaha. Memberikan kail agar mereka dapat mencari ikan itu lebih baik.

Stimulan permodalan usaha juga perlu rasional dan mengedukasi tanggungjawab (integritas kepribadian) si penerima stimulan. Tidak jarang program bantuan modal dari pemerintah berujung menguap lagi dan menguap lagi. Di antaranya karena bantuan modal itu tidak rasional, tidak realistis, dan tidak mendidik.

Penyaluran bansos yang salah atau tidak tepat sasaran hanya akan menumbuhkan "mental kepemintaan" dan ketidakjujuran di sebagian masyarakat yang (sepatutnya masih) produktif.

Bangsa ini hanya perlu dibangkitkan melalui pembangunan mental masyarakat di bawah pengelolaan cerdas para pemimpinnya.

Membenci Penyuara Nurani, Berarti ...

Begitu terang-terangannya mereka membenci orang-orang yang menyeru kebaikan dan memusuhi para penyuara nurani rakyat.

Tapi dengan begitu secara otomatis mereka mengumumkan siapa mereka sebenarnya.

Memang di situlah esensi kemuliaan para pejuang kebaikan.

Sebab di antara jalan meraih kehormatan di sisi Tuhan adalah sabar (konsistensi di dalam perjuangan) menghadapi para pembenci kebenaran.

Revolusi Akhlak, Mungkinkah?

    




Ꙫ

                              Sumber Gambar  : Kumparan.Com        

 

Merevolusi Akhlak




Malaikat saja protes kok

Ꙭ


Lho … protes gimana?

Ꙫ


Keberatan kalo manusia dijadikan khalifah di muka bumi

Ꙭ


Kenapa?

Ꙫ


Sebab, menurut prediksi malaikat, manusia hanya akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi ini

Ꙭ


Memang tabi’at manusia begitu? Eehm … maksudnya, karakter asli manusia itu cenderung membuat kerusakan dan saling berperang?

Ꙫ


Ya dan tidak.


   Ya, manusia akan merusak dan saling menghancurkan jika mereka menuhankan dan mengikuti hawa nafsunya

   Tidak, manusia bisa menjadi baik jika mampu mengendalikan hawa nafsumya

ꙪꙪ

Ꙫ



Berarti prediksi malaikat salah donk?


Itulah makna jawaban Tuhan kepada mereka : “Aku lebih mengetahui apa-apa yang kalian tidak ketahui”.Tapi ada juga tuch yang relevan dengan prediksi malaikat itu …

Ꙭ


Yang mana yang relevan?

Ꙫ


Ya kan pada faktanya banyak manusia yang kerjanya mengikuti hawa nafsu dan membuat kerusakan serta menumpahkan darah saudara-saudaranya di muka bumi ini. Bahkan mereka tidak hanya merusak sesamanya, mereka juga merusak daratan, lautan, dan perut bumi.

Ꙭ


Tapi banyak juga kan manusia yang baik?

Ꙫ


Itu yang malaikat belum tahu Padahal yang namanya manusia itu berpotensi pada dua sisi kemungkinan, bisa menjadi baik  juga bisa menjadi jahat. Makhluk manusia yang berpotensi dua sisi inilah yang dijadikan Tuhan sebagai khalifah di muka bumi ini.

Hukum alamnya memang begitu kok, manusia ada yang baik, ada pula yang jahat. Mereka saling berhadapan antara satu dengan lainnya. Orang-orang baik selalu cenderung mengajak sesamanya kepada kepaikan. Sebalikanya para pengikut hawa nafsu cenderung memusuhi orang-orang yang baik.

Ꙭ


Bisakah semua orang (manusia) dipaksa menjadi baik?

Ꙫ


Manusia diberi kebebasan memilih

Ꙭ


Lantas apa perlunya revolusi akhlak?

Ꙫ


Revolusi akhlak itu penting bagi orang-orang baik yang ingin terus menjaga kebaikan akhlaknya. Revolusi akhlak juga penting bagi orang-orang yang belum baik tapi ingin merubahnya menjadi berakhlak baik.

Revolusi akhlak memang sangat diperlukan. Berubah cepat untuk berhijrah dari akhlak yang buruk menuju akhlak yang baik itu perlu segera dimulai, mengingat sangat singkatnya waktu (kesempatan) di dunia ini. Lebih cepat lebih baik. Kalo tidak sekarang, kapan lagi? Nanti keburu abis waktu donk

Ꙭ


Oooh iya ya

Selasa, 10 November 2020

Pahlawan dan Spirit Ketulusan

SELAMAT HARI PAHLAWAN
Tahun 2020 


Ketulusan Itu Abadi

Gelar Pahlawan dianugerahkan kepada tokoh-tokoh terbaik bangsa, baik pada skala daerah maupun nasional. Proposal pengusulan gelar pahlawan untuk mereka itu diajukan secara bottom up dari dan oleh masyarakat kepada Bupati/Walikota, Gubernur, Kementerian, hingga Presiden. Dibutuhkan tim khusus untuk kepentingan pengkajian rekam jejak mereka yang melibatkan para ahli dari berbagai bidang dan disiplin ilmu. Oleh karenanya, pihak-pihak masyarakat pengusul proposal wajib memenuhi kelengkapan administrasi dan syarat-syarat lainnya yang amat ketat.

Para Pahlawan, baik yang sudah resmi digelari dan dibukukan maupun yang belum ditemukan, yang sudah  dikenal dan yang belum dikenal, merupakan orang-orang terpilih. Mereka adalah mahkota bertahtakan mutiara-intan-permata “termahal” milik bangsa yang sekaligus merupakan simbol penghormatan tertinggi.

Para pahlawan, terlepas dari background pendidikan, pangkat, suku, agama, budaya, dan status sosial lainnya, mereka adalah tokoh-tokoh inspiratif dalam hal ketulusan pengabdian. Gelar pahlawan itu pun dialamatkan secara khusus kepada “pengabdian tulus” mereka itu, bukan yang lainnya.

Hanya “Pengabdian Tulus” yang akan berdampak positif sekaligus dirasakan oleh masyarakat luas dan bangsa. Tanpa niat yang tulus, semua pekerjaan, perjuangan, bahkan jasa apapun akan segera menguap dan tidak berbekas.

Adapun pengabdian tulus para pahlawan tidak akan pernah sirna di hati sanubari. Spirit nasionalisme, perjuangan, keberanian, pengorbanan, dan jasa-jasa para pahlawan akan terus abadi menginspirasi putera-puteri negeri tercinta ini.

Senin, 09 November 2020

Sensitivitas Iman, Hormatilah

Sensitivitas imani itu alamiah. Ada rasa marah di saat wilayah imani itu dilecehkan siapa pun. 

Cara bijak tentu penting untuk menyikapi hal ini. Jangan sampai kemarahan imani yang suci itu diintervensi oleh kemarahan nafsu yang bersumber dari bisikan syetan

Al-Quran Bagi Non-Muslim

Kasus yang menimpa pa Ahok sangat luar biasa, seperti gak ada expire-nya. Tentu, karena Ahok adalah tokoh fenomenal di negeri ini. Melalui kasus ini, yang terpenting adalah mengambil sisi positifnya saja, inspirasi yang bermanfaat.

Karena saya seorang Muslim awam yang secara rutin berusaha membaca ayat-ayat al-Quran dan menghafalnya, kasus Ahok ini menginspirasi saya juga. Tentu saya tidak ingin menghakimi Ahok, tidak juga ingin menghakimi pihak-pihak yang menghakimi Ahok,  dan juga tidak ingin menghakimi para pecinta Ahok. Yang saya tahu, Ahok merupakan bagian dari sejarah yang menginspirasi.

Ini sekedar inspirasi yang menghampiri, bukan pemaksaan pendapat, bukan iklan pendirian, juga jangan dianggap kesimpulan.

Al-Quran (firman Allah) yang bersifat mutlak, mana mungkin dapat dengan mudahnya disimpulkan oleh pemikiran yang bersifat relatif. Jadi di tulisan ini gak ada keaimpulan, mungkin lebih bersifat stimulan lah.

Setidaknya ada 3 soal yang menginspirasi penulis terkait kasus yang menimpa Ahok itu. Mari Kita Diskusikan..., yaitu :
1) Adakah Hak Ahok (dan saudara-saudara kita yang non muslim pada umumnya)Terhadap kitab Al-Quran?
2) Apakah Al-Quran itu sebagai kitab umat Islam saja, atau kitab bagi seluruh umat?
3) Bolehkah Ahok yang kristiani (dan saudara-saudara non muslim pada umumnya) mengambil kepetunjukan dari Al-Quran?

Berkaitan dengan pertanyaan nomor 1 di atas, mungkin kita bisa membaca, menelaah, meresapi, dan merenungkan di antara Firman-firman Allah ini :
# Al-Quran sebagai Kitab Petunjuk Bagi Manusia :
“Bulan Ramadhan (adalah bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, serta bayyinaat dari al-Huda dan al-Furqan”. (Q.S. Al-Baqarah : 185);

“Tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan kepada umat manusia (Q.S. Saba : 28), dan sejumlah ayat semakna lainnya di dalam al-Quran

Demikianlah adanya di antara keterangan yang bisa kita baca di dalam al-Quran.

Catatan yang mungkin penting dari keterangan ini di antaranya :
a) Keterangan Al-Quran adalah firman-firman Tuhan
b) Firman-firman Tuhan adalah mutlak “benar”-nya
c) Firman-firman Tuhan ini ditujukan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia
d) Kaum Muslim, Ahok (dan saudara-saudara kita yang non muslim pada umumnya) adalah manusia

Dari poin-poin a, b, c ,d tersebut menunjukkan bahwa setiap orang (yang manusia itu) punya hak yang sama donk terhadap al-Quran. Andaikan ada kemungkinan perbedaan hak dalam hal ini, atau dikarenakan aspek-aspek tertentu, perlu teman-teman sajikan dasar-dasar dan kajiannya juga. Ini bukan kesimpulan lho... terus kaji ya dan diskusikan.
 
Untuk pertanyaan nomor 2, begini di antara keterangan al-Quran :
# Al-Quran sebagai peringatan bagi seluruh umat :
a) “Dan al-Quran itu tak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat”. (Q.S. Al-Qalam : 52);
b) Idem (Q.S. Al-An’am : 90); dan ayat-ayat lain yang semaksud
c) Keberadaan berbagai umat yang berbeda-beda itu adalah kehendak Allah, “… dan jika Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat …”. (Q.S. Asy-Syuuraa : 8), dan banyak ayat lain yang semakna

Nash-nash di atas barangkali memahamkan kita, bahwa :
- al-Quran diperuntukkan tidak hanya bagi satu umat (Muslim) saja, melainkan kepada berbagai umat mana saja, termasuk umat Jin juga kan...?
- Keanekaragaman umat-umat ini adalah takdir Allah
- Al-Quran menyeru umat-umat itu beriman pada kitab ini, sebagaimana umat Muslim diwajibkan beriman kepada kitab Zabur, Taurat, dan Injil.
- Bahwa aspek keimanan setiap individu merupakan rahasia Allah dan siapa pun tidak berhak mencampuri, memaksa, lebih-lebih menghakimi.

Ini juga bukan kesimpulan, hati-hati pendapat kita relatif, ga ada yang mutlak (absolut).. Tiap pendapat perlu terus diuji, diperdalam lagi, tambah lagi referensi-referensi relevan, ayo...!!!

Berkenaan pertanyaan nomor 3, kita telaah lagi aja nash-nash di atas :
1) Kan al-Quran diturunkan bagi kepetunjukan umat manusia
2) Al-Quran menyajikan kepetunjukan-kepetunjukan khusus dan umum. Juga ada makna lahir dan makna batin. Pokoknya lengkap pisan al-Quran mah. Yang khusus misalnya menyangkut kepetunjukan kewajiban salat, zakat, shaum, dan ritual lainnya. Sedangkan yang umum, seperti kepetunjukan soal  hubungan mu’amalah (sosial, transaksi, pendidikan, dsb), ayat-ayat ini bahkan mayoritas. BIsa recek dech kalo-kalo penulis salah

Terlepas dari kepetunjukan al-Quran baik yang khusus maupun yang umum itu, nash-nash di atas menegaskan bahwa setiap orang dan umat (yang manusia itu) merupakan tujuan  utama diturunkannya al-Quran agar mereka menjadikannya sebagai petunjuk. Jadi apakah hal ini bisa dipahami bahwa setiap orang (lintas sara) berhak atas kepetunjukan al-Quran?  Eeeeh... awas ini pun jangan cepat-cepat disimpulin ok ....!!!

Sekian dulu bro, wassalam

Bahan diskusi selanjutnya adalah
1) Orang Taqwa Dalam Pengertian Manusia Lintas-Agama dan Umat
2) Apa sich Sebenarnya “Substansi Muslim” Menurut Al-Quran?                  3)Apa sich Sebenarnya “Substansi Kafir” Menurut Al-Quran?
4) … dan inspirasi-inspirasi kontemporer zaman now lainnya lah...

Catatan :
1) Mohon maaf, tulisan ini bukanlah kajian ilmiah atau tafsir Al-Quran. Itu mah domain-nya para mufassir (ulama tafsir) rahimahumullah.. Penulis bukanlah ahlinya dan terlalu jauh dari kemampuan itu. Tulisan ini hanya ditujukan sebagai stimulan saja, khususnya buat pemikiran kreatif kaum muda. Penulis sendiri sudah berusia cukup senja. Bermula dari baca-baca kitab Al-Quran yang pastinya ada terjemahannya., he he. Sekali lagi... ini hanya sebagai stimulan awal bagi awam seperti penulis, yang juga bisa menjadi stimulan kajian selanjutnya, tentu harus dengan program bimbingan para ahlinya;
2) Di tengah keawaman ini, penulis ingin memahami sedikit demi sedikit al-Quran sebagai kitab petunjuk bagi seluruh manusia dan umat. Penulis juga takut sekali terjerembab kepada menistakan al-Quran dikarenakan begitu gampangnya mengambil tafsiran (pemahaman, kesimpulan, bahkan keyakinan) yang subjektif akibat emosi kepentingan, sentimen SARA, politik, dsb. Menistakan al-Quran berarti juga menistakan agama, dan sekaligus menistakan Tuhan. Na'udzubillah, laa haula wa laa quwwata illaa billah...


Agama Jangan Berhenti di Buku


Sumber Gambar : http//1/bp.blogspot.cpm/...
Teori-teori Pengantar Perilaku Beragama


Seseorang beragama jika, di antaranya :

1. Berusaha maksimal memahami agamanya
a.    Mencintai dan mempelajari kitabnya
b.    Mempelajari perjalanan perilaku nabinya
c.    Belajar dari para penerus nabinya

2.Kepatuhan beragama menyibukkan dirinya
a.      Mengamalkan petunjuk-petunjuk kitabnya
b.      Mengamalkan perilaku yang dicontohkan nabinya
c.      Menghormati dan mengikuti kebaikan gurunya

3.  Orang lain dan masyarakat aman dari tangan dan ucapannya
a.      Ramah dan santun kepada masyarakat di lingkungannya
b.      Bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya
c.      Tidak menzalimi orang lain dan masyarakatnya

4.  Menyadari kekurangan diri dan tidak menjadikan dunia tujuan akhir

 

Masyarakat beragama jika, di antaranya :

1.    Orang-orang berilmu mengingatkan kekeliruan para pemimpinnya

2.    Orang-orang kaya tidak kikir, dan menyantuni kaum lemah di lingkungannya

3.    Orang-orang miskin tidak mengemis dan tidak “menjual imannya” 

4.    Orang-orang bodoh bersikap rendah hati dan tidak menyombongkan dirinya

 

Penghancur agama, di antaranya :

1.    Memperdebatkan agama tanpa dasar ilmu dan pemahaman

2.    Hasud, iri hati, dan hilangnya ketulusan

3.    Keserakahan, kepenjilatan, kepengecutan, dan hilangnya rasa malu

4.   Saling menjelekkan dan tidak saling mendamaikan

Indonesia Harus Damai

Kunci Surga Yang Tertukar (?)

Sumber Gambar : Grid Kids-Grid.Id. Ketika mulut mengucapkan "tiada ilaah kecuali Allah", pada saat yang sama hati harus membuktika...

Gusdur